Minggu, 02 Desember 2012

[Novel] 5 cm by Donny Dirgantoro


Judul Buku : 5 CM
Penulis : Donny Dhirgantoro
Penerbit : PT.Grasindo
Tebal Buku : 381 halaman

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Nggak telat-telat amat kan ya baru baca buku ini sekarang?! Meskipun udah cetak ulang untuk kesekian kalinya. Sebenarnya udah lumayan lama denger-denger buku ini, secara bukunya tenar banget, bahkan sekarang film nya aja udah mau tayang. Setelah membujuk si adik untuk membeli buku ini, niatnya buat ngasih dia motivasi, karena denger-denger buku ini memotivasi banget untuk mengejar mimpi. Berhubung adik saya lagi di saat-saat terakhir SMA nya. Sekalian saya juga pengen baca sebenarnya, hehe..

Rasanya ini pertama kalinya saya ngeliat list cetakan ulang sebuah buku yang sekian banyak sehingga bikin saya makin penasaran untuk baca. Apalagi sebelum mulai baca ceritanya sendiri saya di suguhkan pendapat-pendapat pembaca yang begitu mengagumi buku ini.

Begitu membaca halaman pertama cerita di buku ini sebenarnya sedikit merasa abstrak, kurang jelas intinya  apa, tapi sebenarnya saya juga nggak terlalu mengharapkan sesuatu yang akan sama dengan buku-buku lain yang saya pernah baca. Dibuka dengan pengenalan masing-masing tokoh, 5 orang sahabat, Genta, Riani, Arial, Zafran, Ian, yang hampir selalu melakukan kegiatan bersama. Saya berusaha untuk mengingat karakter setiap orang. Bagaimana seorang cowok bisa bertahan di antara empat orang cowok sebenarnya lumayan bintar, tapi lumayan konyol-konyol juga.

Saat cerita sebenarnya di mulai (sebenarnya agak bingung juga di mana cerita sebenarnya di mulai), saya lumayan berusaha mengikuti cerita. Hanya saja saya sedikit merasa terganggu dengan pendeskripsian fantasi cowok di sini. Ya, mungkin itu emang bukan rahasisa umum lagi, saya juga nggak pengen naif-naif amat, tapi tetap aja saya kurang nyaman dengan pendeskripsian demikian. Gaya gaul nya mereka juga kurang bisa saya nikmati, lelucon-lelucon dan pola pikir konyol mereka. Jadi mikir, mengingat penulisnya cowok, apa jangan-jangan sepanjang cerita saya harus berusaha mengerti sisi pikiran cowok sebenarnya.

Awal cerita yang terkesan seperti pengantar itu saya sebenarnya udah kurang bisa masuk ke ceritanya. Sebenarnya secara keseluruhan baca buku ini saya nggak terlalu dapat ceritanya. Saya lebih seperti membaca sebuah buku pengetahuan umum (karena pengetahun yang tersebar di buku emang dari berbagai kalangan pengetahuan), pesan-pesan moral dan nasionalisme yang berusaha di kemas dalam bentuk cerita. Tapi, paling tidak ceritanya lumayan kerasa.

Membaca awal ceritanya juga membuat saya ngerasa kayak dunia di novel ini dunia cuma seputar mereka berlima. Emang belum dapat feel hidupnya. Penggabaran karakter masing-masing sebenarnya menyertai segala kekurangan karakter di sini, konyol dan gila nya mereka, tapi seiring berjalannya cerita, saya merasa mereka sedikit terlalu sempurna dengan pola pikir mereka yang 'seperti selalu positif'. Sebenarnya saya nggak terlalu masalah dengan banyaknya kutipan-kutipan lagu dan film yang bertebaran di novel ini dari awal sampai akhir. Meskipun jadinya saya nggak terlalu tertarik mencari info lebih tentang lagu dan film tersebut seperti biasanya karena terlalu banyak, dan sayangnya saya malah sering melewati kutipan-kutipan tersebut karena saking banyak dan panjangnya.

Baru setelah memasuki masa mereka berpisah selama tiga bulan, baru saya lumayan ngerasa ceritanya. Di antara mereka berlima, kisah yang paling saya suka itu kisahnya Ian, apalagi kalau bukan karena perjuangan skripsi nya. Meskipun tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan bahwa menulis skripsi itu sepenuhnya seperti cerita dengan segala rintangan dan keajaibannya, namun setidaknya cukup membuat saya terpacu semangat juga. Padahal saya baru juga masuk jurusan :D

Dan untuk setengah bagian selanjutnya, tentang perjuangan mereka mencapai puncak Mahameru, saya udah lumayan bisa menikmati cerita. Mood saya udah lumayan baik di cerita ini sehingga bisa bertahan menyelesaikannya (termotivasi dengan segala komentar-komentar positif yang saya baca sebenarnya). Motivasi dalam cerita perjuangan mereka emang cukup ngena, apa lagi kalau udah menyangkut perjalanan mendaki gunung emang nggak bisa di anggap sepele. Meskipun saya nggak pernah mendaki gunung 'secara langsung', at least saya merasa cukup tahu bagaimana perjuangan yang harus di tempuh, pengorbanan yang delakukan, persiapan mental, dan kepuasan yang dicapai saat berusaha untuk menyatu dengan alam.

Pendeskripsian gunung nya yang lumayan jelas sebenarnya bikin saya kepengen ke sana juga, ngeliat pemandangan-pemandangan di sana. Tapi, mengingat perjuangan mereka, sepertinya saya belum siap, haha. Romansa di novel ini juga lumayanlah.

Dan sekarang, hanya beberapa hari sebelum film nya rilis, lagi-lagi juga karena menyadari perbedaan cover buku di GM, saya mengetahui siapa aja pemeran-pemeran utama untuk film ini. Begitu membaca nama Herjunot Ali, pikiran saya langsung melayang ke Zafran, udah yakin Igor Saykoji bakalan meranin Ian, dan agak ragu Fedi Nuril bakalan jadi genta atau Arial. Untuk pemeran lainnya saya nggak begitu ingat wajahnya, hanya saja begitu saya browsing lagi tentang mereka, saya cukup setuju mereka mendapat peran di sini. Emang lumayan mewujudkun bayangan saya tentang karakter di novel ini. Hanya saja saya nggak punya bayangan tentang karakter ceweknya, yang bisa saya tangkap hanya, they're not under rated. Rasanya mungkin filmnya akan jadi lumayan bagis dari novel untuk bagian awal, namun nggak terlalu yakin untik bagian akhirnya.

Kesimpulannya, novel ini lumayan bagus, meskipun tidak terlalu meninggalkan kesan mendalam buat saya. Tapi lumayan untuk menjadi sebuah bacaan, dengan segala ilmu dan motivasinya.

1 komentar:

Share It